Getasan (22/02) - Jum’at 20 Februari 2025 kemarin, seorang warga Blok Gintung RT 012 RW 004 melaporkan ke Balai Desa Getasan bahwa anggota keluarganya tengah dirawat di Rumah Sakit karena terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Kejadian ini harus menumbuhkan kewaspadaan bagi kita semua, mengingat DBD merupakan penyakit yang dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi fatal jika tidak ditangani dengan baik.
DBD adalah penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala klinis DBD meliputi demam mendadak, perdarahan, dan penurunan jumlah trombosit dalam darah. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk syok dan kematian, terutama pada anak-anak dan orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Gejala umum yang dialami penderita meliputi:
- Demam tinggi mendadak (39–40°C)
- Sakit kepala parah
- Nyeri otot dan sendi
- Ruam merah pada kulit
- Mual dan muntah
Jika tidak ditangani cepat, DBD dapat menyebabkan syok, perdarahan, hingga kematian.
Kemenkes RI menganjurkan program 3M Plus sebagai langkah efektif pencegahan DBD:
- Menguras: Bersihkan tempat penampungan air (bak mandi, tempayan, vas bunga) minimal seminggu sekali.
- Menutup: Tutup rapat tempat penyimpanan air untuk mencegah nyamuk bertelur.
- Mendaur Ulang: Manfaatkan atau daur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Plus:
- Pasang kawat anti-nyamuk di ventilasi rumah.
- Gunakan kelambu saat tidur, terutama untuk bayi dan lansia.
- Taburkan larvasida (abate) di tempat air yang sulit dikuras.
- Kenakan pakaian tertutup dan oleskan lotion anti-nyamuk saat beraktivitas di luar.
Kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan DBD. Melalui sosialisasi dan edukasi, diharapkan warga dapat lebih memahami bahaya DBD dan cara-cara pencegahannya. Selain itu, kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan juga dapat membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit ini. Peran Aktif Masyarakat dapat diwujudkan melalui:
- Lingkungan Bersih:
- Lakukan kerja bakti rutin untuk membersihkan selokan, sampah, dan lokasi genangan air.
- Laporkan lokasi rawan DBD (seperti ban bekas atau talang air tersumbat) ke RT/RW setempat.
- Deteksi Dini:
- Segera bawa anggota keluarga yang menunjukkan gejala DBD ke fasilitas kesehatan.
- Hindari pengobatan tradisional tanpa konsultasi dokter.
- Sosialisasi Berkelanjutan:
- Ikuti program Posyandu atau penyuluhan kesehatan dari puskesmas terkait pencegahan DBD.
DBD masih menjadi ancaman serius di Indonesia, terutama saat musim hujan. Data Kementerian Kesehatan RI (2023) mencatat lebih dari 100.000 kasus DBD terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue, berkembang biak di genangan air bersih di sekitar pemukiman. Oleh karena itu, kewaspadaan dan peran aktif masyarakat sangat penting untuk memutus mata rantai penularan.
DBD dapat dicegah melalui kesadaran kolektif. Mari wujudkan lingkungan sehat bebas nyamuk dengan disiplin menerapkan 3M Plus. Ingat, satu genangan air yang dibiarkan dapat menjadi sumber wabah bagi seluruh komunitas!. (Moez76)